**Bayangan yang Menatap Dari Dunia Lain** _Seratus tahun_. Angka itu terukir dalam jiwaku, seberat batu nisan yang menutupi makam cinta yang dikhianati. Aku, Lin Wei, *terlahir kembali* di tengah hiruk pikuk kota Shanghai, namun hatiku masih menyimpan gema dari kehidupan lampau, kehidupan sebagai putri bangsawan yang dikutuk, Lin Mei. Setiap musim semi, ketika bunga plum bermekaran, bayangan masa lalu menghantuiku. Aku mendengar *bisikan* namanya, Li Zhao, sang jenderal muda yang mencuri hatiku, lalu menikamnya dengan pengkhianatan. Janji yang diucapkannya di bawah rembulan, "Aku akan mencintaimu selamanya, Lin Mei," kini terasa seperti debu yang beterbangan. Suatu hari, di sebuah galeri seni yang dipenuhi lukisan kuno, mataku terpaku pada potret seorang jenderal. Sorot matanya, garis rahangnya… itu dia. *Li Zhao*. Namun, namanya tertulis sebagai Zhou Yi. Reinkarnasi? Takdir? Jantungku berdebar kencang, campuran antara dendam dan harapan yang absurd. Aku mulai mengumpulkan informasi tentang Zhou Yi. Dia seorang pengusaha sukses, dingin dan penuh perhitungan. Namun, di matanya, aku melihat sepercik kerinduan, seolah ia pun merasakan resonansi dari masa lalu. Pertemuan kami tak terhindarkan. "Kita pernah bertemu sebelumnya, bukan?" tanyanya suatu malam, di tengah hujan gerimis yang mengingatkanku pada malam pengkhianatan. Suaranya… *suara yang kukenal* dari kehidupan lain. Aku tersenyum pahit. "Mungkin dalam mimpi," jawabku, menyembunyikan gejolak di dalam diri. Perlahan, misteri masa lalu kami terkuak. Ternyata, Li Zhao dijebak oleh musuh politiknya. Ia terpaksa mengkhianatiku untuk menyelamatkan keluarganya. Namun, pengkhianatan itu tetap merenggut nyawaku, dan membuatnya hidup dalam penyesalan abadi. Sebuah *janji* yang dibuat di tengah keputusasaan: menemukan dan mencintaiku di kehidupan selanjutnya. Kebenaran itu menyakitkan. Dendamku perlahan menguap, digantikan oleh rasa iba yang aneh. Zhou Yi, sang jenderal yang bereinkarnasi, telah membayar dosanya selama seratus tahun. Lalu, tibalah saatnya pembalasan. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan air mata, melainkan dengan keheningan. Aku melepaskan semua dendam, melepaskan semua harapan. Aku memaafkan Zhou Yi, bukan demi dirinya, tapi demi kedamaian jiwaku sendiri. Di hadapannya, aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan masa lalu yang kelam. Tanpa sepatah kata pun. *Pengampunan* adalah pedang yang paling tajam. Beberapa waktu kemudian, aku menerima sebuah lukisan bunga plum dari seorang pengirim anonim. Di belakangnya tertulis satu kalimat: *"Sampai kita bertemu lagi, Lin Mei…"*. Bisikan dari kehidupan sebelumnya, ataukah janji untuk reinkarnasi selanjutnya?
You Might Also Like: Mimpi Menemukan Capung Ternyata Ini
