**Cinta yang Mewarisi Kutukan Lama** Lantai Aula Emas berkilauan memantulkan cahaya ribuan lentera, namun kehangatannya gagal menembus dinginnya tatapan para pejabat istana. Di antara pilar-pilar marmer yang menjulang, Kaisar Yong Lin, sosok berwibawa dengan janggut yang mulai memutih, memperhatikan putranya, Pangeran Zhen, dengan sorot mata yang sulit ditebak. Pangeran Zhen, di usianya yang ke-25, adalah *PERWUJUDAN* kesempurnaan. Tampan, cerdas, dan ahli bela diri. Namun, di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi yang membara. Ia mendambakan takhta, bukan sekadar untuk berkuasa, tapi untuk membuktikan diri pada ayahnya yang selalu tampak meremehkannya. Di sisi lain istana, tersembunyi di balik tirai sutra berwarna nilam, tinggal Putri Lian, sepupu jauh Kaisar. Kecantikannya legendaris, namun diliputi kesedihan. Keluarganya telah lama dibuang dari istana, dituduh melakukan pengkhianatan. Kini, ia hanya menjadi bayangan, diperlakukan dengan hormat yang hampa. **ATAU begitukah adanya?** Zhen dan Lian. Dua jiwa yang terikat oleh takdir dan sebuah *KUTUKAN* lama yang membayangi keluarga kerajaan. Keduanya bertemu secara diam-diam di taman terlarang, jauh dari mata dan telinga para mata-mata. Cinta mereka tumbuh di tengah intrik dan rahasia istana, sebuah api yang menyala di tengah badai. "Aku mencintaimu, Lian," bisik Zhen suatu malam, menggenggam erat tangannya. "Aku akan menjadikanmu Permaisuriku. Kita akan memerintah bersama." Lian menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Cinta kita adalah bahaya, Zhen. Ayahmu tidak akan pernah mengizinkannya. Keluarga kita..." "Aku akan merebut takhta. Demi dirimu. Demi *KITA*." Janji Zhen adalah pedang bermata dua. Cinta menjadi alat, dan takhta menjadi target. Mereka merencanakan, bersekongkol, dan memanipulasi bidak-bidak di papan catur kekuasaan. Setiap senyuman, setiap bisikan, adalah perhitungan yang cermat. Namun, Lian menyimpan rahasia kelam. Ia bukan hanya seorang putri yang malang. Ia adalah keturunan terakhir dari keluarga yang dikhianati, mewarisi dendam yang membara selama bertahun-tahun. Cinta Zhen hanya menjadi bahan bakar untuk api yang akan membakar seluruh istana. Saat Zhen berhasil menggulingkan ayahnya dan menduduki takhta, ia mengulurkan tangannya pada Lian. "Mari kita mulai era baru, istriku." Lian tersenyum dingin, sebuah senyuman yang tidak pernah dilihat Zhen sebelumnya. Ia mendekat, bukan untuk menerima ciuman kemenangan, melainkan untuk menusukkan belati perak ke jantung Zhen. "Cinta? Kekuasaan? Itu semua hanya ILUSI," bisiknya, suaranya dipenuhi racun dendam. "Yang abadi hanyalah *KEADILAN*." Zhen tersungkur, terkejut dan berdarah. Ia menatap Lian, sebuah pertanyaan besar tergantung di matanya. Lian menatap balik tanpa penyesalan. Ia telah merebut kembali takhta, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membersihkan nama keluarganya. Ia telah merencanakan setiap langkahnya dengan cermat, menggunakan cinta Zhen sebagai senjata yang paling ampuh. Di Aula Emas yang sunyi, hanya terdengar napas terakhir Pangeran Zhen dan suara langkah kaki Putri Lian yang semakin menjauh. Ia melangkah menuju takhta, bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai seorang Ratu yang akan memerintah dengan tangan besi. Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri. **DAN apakah ini akhir dari kutukan?**
You Might Also Like: Jual Skincare Dengan Kandungan Alami