Seru Sih Ini! Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati



Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati

Lentera-lentera menari di atas Sungai Lan, memantulkan cahaya kekuningan ke wajah Bai Lian, seorang gadis penjual teh di kota Ping An. Namun, matanya, sedalam danau yang beku, tak memantulkan kebahagiaan. Setiap malam, ia bermimpi. Mimpi tentang istana megah, tentang gaun sutra merah darah, dan tentang pengkhianatan yang membekukan jiwa.

Ia tak mengerti. Ia hanyalah Bai Lian, penjual teh sederhana. Kenapa mimpi itu terasa begitu NYATA?

Suatu senja, kereta kencana berhiaskan ukiran naga berhenti di depan kedainya. Dari sana, turunlah seorang pria, mengenakan jubah brokat berwarna giok. Matanya... mata itu bagai cermin yang memantulkan bayangan masa lalu.

"Lian Er..." bisiknya, suaranya serak. "Akhirnya aku menemukanmu."

Bai Lian tertegun. Ia tak mengenal pria ini. Namun, ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya, sebuah ingatan yang TERKUBUR dalam pusaran waktu.

Pria itu, Pangeran Rui, datang setiap hari. Ia menceritakan kisah cinta mereka di kehidupan sebelumnya. Tentang Kaisar Zhen, yang berjanji akan memberikan seluruh dunia pada Selir Lian, satu-satunya wanita yang ia cintai. Namun, hasrat akan kekuasaan membutakannya. Ia menuduh Lian berkhianat, menjebloskannya ke penjara bawah tanah, dan akhirnya... menghukumnya mati.

Bai Lian mendengarkan, hatinya SULIT mencerna. Kebencian? Dendam? Ia tak merasakannya. Ia hanya merasakan kekosongan. Hatinya telah mati di kehidupan itu. Reinkarnasi memang memberinya kesempatan kedua, namun tidak untuk mencintai.

"Lian Er, maafkan aku," Pangeran Rui memohon, air mata mengalir di pipinya. "Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku."

Bai Lian menatapnya. Di matanya, ia melihat ketulusan, penyesalan yang mendalam. Tapi semua itu... TERLAMBAT.

"Kehidupan lampau adalah kehidupan lampau," jawab Bai Lian dingin. "Aku hanyalah Bai Lian. Aku tak mengenalmu."

Pangeran Rui terpaku. Harapan yang tadinya membara padam seketika.

Bai Lian kembali menjual tehnya. Ia menyaksikan Pangeran Rui, pria yang dulunya adalah kaisar yang kejam, hidup dalam penyesalan yang abadi. Balas dendamnya bukan dengan darah, bukan dengan air mata. Balas dendamnya adalah ketidakmampuannya untuk dicintai.

Suatu hari, seorang pria berpakaian lusuh datang ke kedainya. Matanya teduh, penuh dengan kebijaksanaan kuno. Ia memesan teh dan menatap Bai Lian dengan tatapan yang menusuk jiwa.

"Kau telah memilih jalanmu, Nak," katanya pelan. "Tapi ingat, karma itu seperti Sungai Lan, selalu mengalir, tak pernah berhenti."

Bai Lian menatapnya, bingung.

Pria itu tersenyum tipis. "Di kehidupan selanjutnya, giliranmu yang menunggu."

Lentera-lentera menari di atas Sungai Lan, membawa bisikan janji yang tertunda seribu tahun, sebuah janji yang mungkin akan mengulang SEGALANYA.

You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Digigit

Post a Comment

Previous Post Next Post