Cerpen Keren: Langit Yang Tak Lagi Mengenal Dewa



Hembusan angin malam di Paviliun Bulan membawa aroma bunga plum yang memabukkan, namun bagi Mei Hua, aroma itu kini terasa seperti racun. Lima tahun. LIMA TAHUN sudah berlalu sejak janji itu terucap di bawah pohon Kamper di lembah terlarang. Lima tahun sejak Li Wei, sang Pangeran Mahkota, berjanji akan menjadikannya satu-satunya permaisuri, mengabaikan semua intrik dan tradisi kekaisaran.

Dulu, matanya yang sehangat mentari senja membuat Mei Hua percaya. Dulu, suaranya yang berbisik di telinganya mampu meruntuhkan benteng hatinya. Dulu, sentuhannya terasa seperti SUMPAH ABADI. Sekarang? Hanya kekosongan yang menganga.

Li Wei berdiri di hadapannya, jubah kebesarannya berkilauan diterangi rembulan. Wajahnya, yang dulu dipuja Mei Hua, kini dipenuhi garis ketegasan yang asing. Di sampingnya berdiri Permaisuri Xiao, anggun dalam balutan sutra merah, senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang tipis.

"Mei Hua," suara Li Wei terdengar datar, tanpa emosi. "Aku meminta kehadiranmu di sini untuk menyampaikan keputusan kekaisaran. Demi stabilitas dinasti dan atas permintaan Permaisuri Xiao, aku telah mengangkatmu sebagai Selir Kekaisaran Tingkat Kedua, Selir Hua."

Dunia Mei Hua runtuh. Bukan hanya janji yang dilanggar, tapi juga harga dirinya, kehormatannya, cintanya. Dadanya terasa sesak, matanya membara oleh amarah dan air mata yang tertahan. Ia teringat bisikan Li Wei lima tahun lalu, "Aku akan merobek langit jika itu yang harus kulakukan untuk bersamamu." Sekarang, langit itu tampak begitu jauh, begitu asing, BEGITU KEJAM.

"Yang Mulia terlalu baik," Mei Hua menjawab dengan suara bergetar, berusaha menenangkan diri. Ia membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan getir di balik senyum palsu. "Saya akan melayani Yang Mulia dan Permaisuri dengan segenap kemampuan saya."

Di balik senyum itu, bara dendam mulai menyala. Ia akan menjadi Selir Hua, namun bukan Selir Hua yang penurut dan lemah. Ia akan belajar, ia akan berkuasa, ia akan membalas sakit hatinya. Ia akan menggunakan setiap intrik dan tipu daya yang ada di istana, bahkan jika itu berarti mengotori tangannya sendiri. Ia akan membuat Li Wei menyesali keputusannya, ia akan membuat Permaisuri Xiao meratapi kemenangannya.

Bertahun-tahun berlalu. Mei Hua, dengan kecerdasan dan kecantikannya yang memukau, berhasil meraih posisi Selir Tingkat Pertama, Selir Terkasih. Ia menjadi penasihat kepercayaan Kaisar Li Wei, mengendalikan jaringan mata-mata di seluruh kekaisaran. Ia membangun aliansi dengan para pejabat tinggi dan menyingkirkan musuh-musuhnya dengan kejam. Ia menjadi bayangan yang menghantui istana, kekuatannya merayap di setiap sudut dan celah.

Suatu malam, Li Wei memanggil Mei Hua ke Paviliun Bulan. Ia tampak lelah dan putus asa. Permaisuri Xiao sakit parah, dan kekaisaran terancam pemberontakan.

"Mei Hua," ia berkata dengan suara lirih, "Aku... aku menyesal."

Mei Hua menatapnya tanpa emosi. Penyesalan? Terlalu lambat. Terlalu sedikit.

"Penyesalan tidak akan mengubah apa pun, Yang Mulia," jawab Mei Hua. "Takdir telah ditulis. Keadilan akan ditegakkan."

Kemudian, di bawah rembulan yang pucat, Mei Hua menyuruh para tabib kekaisaran memberikan ramuan khusus untuk Permaisuri Xiao – ramuan yang akan mempercepat kematiannya. Ia juga membocorkan informasi penting kepada para pemberontak, memastikan Li Wei akan menghadapi konsekuensi dari keputusannya.

Ia menyaksikan keruntuhan Li Wei dari kejauhan, tanpa rasa kasihan. Ia melihat istana terbakar, kekaisaran hancur, dan Li Wei dijatuhi hukuman mati. Keadilan telah ditegakkan, namun di hatinya, hanya ada kekosongan yang lebih besar.

Kini, di puncak kekuasaan, Mei Hua berdiri sendirian. Ia telah membalaskan dendamnya, namun ia kehilangan segalanya. Cinta, kepercayaan, dan kedamaian hatinya telah lama sirna.

Apakah ia akan menemukan kedamaian di antara reruntuhan cintanya, atau ia akan terus dihantui oleh bayangan dendam yang abadi?

You Might Also Like: Dracin Populer Kau Tersenyum Dalam

Post a Comment

Previous Post Next Post