Aku Menulis Kontrak Rahasia, Tapi Tak Sanggup Menulis Perpisahan
Aula Emas Istana Qianyuan berkilauan diterangi ratusan lilin. Di bawahnya, bayangan panjang menari-nari, mencerminkan intrik dan rahasia yang mengalir di antara pilar-pilar marmer. Kaisar Li Wei, dengan jubah naga keemasan, duduk di singgasana. Tatapannya tajam menyapu deretan pejabat yang membungkuk hormat. Namun, hatinya terpaut pada satu sosok: Permaisuri Ning, berdiri anggun di sisinya, bagai bunga teratai di tengah badai.
Ning adalah seorang strategiwan ulung, bukan hanya hiasan istana. Dialah yang menyusun kontrak rahasia yang mengantarkan Li Wei menuju takhta, perjanjian yang penuh pengkhianatan dan darah. Mereka terikat oleh KEKUASAAN dan sebuah cinta yang lahir di tengah bara intrik.
"Yang Mulia Permaisuri," Li Wei berbisik di sela upacara, suaranya rendah dan sarat makna, "Kau adalah kekuatan dan kelemahanku."
Ning hanya tersenyum tipis. Janji adalah pedang di istana ini, Kaisar. Senyumnya tak mencapai mata. Di balik tirai sutra yang memisahkan ruang pribadi dan ruang publik, bisikan pengkhianatan merayap. Para selir iri dengan kedudukan Ning, para pejabat iri dengan pengaruhnya, dan para pangeran diam-diam menyusun pemberontakan.
Cinta Li Wei pada Ning adalah kelemahan yang mereka incar.
Bertahun-tahun berlalu. Kontrak rahasia itu menjadi legenda istana, sebuah misteri yang semua orang ingin pecahkan. Li Wei dan Ning membangun kekaisaran yang makmur, namun cinta mereka terkikis oleh paranoia dan ambisi. Li Wei mulai meragukan Ning. Apakah cintanya tulus, ataukah dia hanya pion dalam permainan kekuasaan sang permaisuri?
Suatu malam, Li Wei menemukan bukti pengkhianatan Ning. Sebuah surat rahasia, ditujukan kepada seorang jenderal yang berkhianat, berisi rencana untuk menggulingkannya. Amarahnya membara, ia memerintahkan agar Ning ditangkap.
Di penjara bawah tanah yang dingin, Ning menghadapi Li Wei. Air matanya tak mampu meluluhkan hatinya yang telah membatu.
"Aku mencintaimu, Li Wei," bisik Ning, suaranya bergetar. "Tapi aku lebih mencintai kekaisaran. Aku melakukan apa yang harus kulakukan."
"Kau menusukku dari belakang, Ning!" raung Li Wei, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai.
Ning dijatuhi hukuman mati. Namun, saat eksekusi hendak dilaksanakan, sebuah pasukan pemberontak menyerbu istana. Dipimpin oleh... adik laki-laki Ning, seorang pangeran yang selama ini dianggap lemah dan bodoh.
Li Wei, yang terluka parah, menyaksikan Ning dibebaskan.
"Kau... merencanakan ini semua?" tanyanya lemah.
Ning menatapnya dengan mata dingin, tanpa belas kasihan. "Aku menulis kontrak rahasia untuk mengantarkanmu ke takhta, Li Wei. Tapi aku juga menulis akhir dari masa kejayaanmu."
Balas dendam Ning bukan sekadar perebutan kekuasaan. Itu adalah hukuman atas cinta yang dikhianati, atas kepercayaan yang dirusak, atas harga yang harus dibayar untuk ambisi yang tak terkendali. Ia membangunkan naga yang selama ini tertidur. Elegan, dingin, dan mematikan.
Ning naik ke singgasana, mengenakan jubah naga keemasan yang dulu milik Li Wei. Ia menatap rakyatnya, matanya berkilat dengan tekad.
"Mulai hari ini," suaranya menggema di seluruh istana, "kekaisaran ini akan dipimpin oleh seorang wanita."
Dan sejarah pun... menulis ulang dirinya sendiri dengan tinta darah dan air mata.
You Might Also Like: Agen Skincare Jualan Kosmetik Di