Cerita Populer: Senyum Yang Meninggalkan Jejak Dosa



Hujan kota Jakarta malam itu membasahi layar ponselku, serupa air mata yang enggan tumpah. Setiap notifikasi dari grup kantor hanya mempertegas kesunyian di apartemen studio ini. Aroma kopi yang pahit, satu-satunya teman setia di tengah malam. Di layar, sisa-sisa chat denganmu, Xiao Lin. Percakapan yang tak pernah selesai, janji-janji yang menguap bersama asap rokok elektronikmu.

Dulu, cinta kita lahir di antara notifikasi Instagram dan mimpi-mimpi yang kita bagi lewat voice note tengah malam. Kamu, si graphic designer yang jenius dengan senyum semanis madu. Aku, si penulis lepas yang terobsesi dengan kata-kata dan kamu. Kita membangun istana digital, rapuh namun terasa abadi.

Namun, seperti data yang tiba-tiba corrupt, hubungan kita retak. Dimulai dari pesan-pesan yang semakin singkat, panggilan telepon yang semakin jarang, dan tatapan mata yang semakin kosong. Kamu menghilang, sedikit demi sedikit, meninggalkan jejak kehilangan yang samar, seperti ghosting di dunia maya.

Aku mencoba mencari tahu, menggali informasi dari teman-teman kantor, bahkan stalking akun media sosialmu yang sudah lama tak aktif. Semakin aku mencari, semakin aku tersesat dalam labirin misteri. Akhirnya, sebuah foto muncul: kamu, tersenyum, di samping seorang pria yang bukan aku. Senyum itu, senyum yang dulu hanya untukku, kini menjadi *DOSA yang menghantuiku.

Rahasia itu terungkap perlahan, seperti loading video yang lambat. Kamu memilihnya, pria kaya yang menjanjikan masa depan cerah, stabilitas finansial, dan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Aku hanyalah kesalahan, bab yang harus dihapus dari cerita hidupmu.


Seminggu kemudian, aku berdiri di depan kantor tempat kamu bekerja. Hujan masih sama derasnya. Aku melihatmu keluar, menggandeng tangannya. Senyummu, masih sama manisnya, tapi tidak lagi untukku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis, senyum yang menyiratkan pengampunan, sekaligus kepuasan.

Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi pesan. Sebuah pesan telah tertulis lama, menunggu waktu yang tepat untuk dikirim.

Kepada Xiao Lin, kekasih yang hilang:

"Terima kasih atas segalanya. Semoga kamu bahagia."

Aku menekan tombol "kirim".

Kemudian, aku berbalik dan melangkah pergi. Di belakangku, notifikasi berdering di ponselmu. Kamu membacanya, wajahmu memucat.


Balas dendamku sederhana: menghapus nomor teleponmu, menghapus semua foto dan video kita, dan melanjutkan hidup.

Aku telah menemukan diriku kembali, tanpa kamu.

Dan itu sudah cukup.

You Might Also Like: Determinants Of Export Surge Episodes

Post a Comment

Previous Post Next Post