Bayangan yang Menatap Bumi untuk Terakhir Kali
Angin lembah berbisik melalui rambut panjang Wei Lin, membawa aroma bunga persik dan… debu. Debu ingatan. Setiap hari, aroma itu semakin kuat, memicu kilasan-kilasan samar: istana megah, jubah sutra merah, dan wajah… wajah yang dipenuhi pengkhianatan.
Wei Lin bukan lagi putri mahkota yang anggun. Ia sekarang hanya seorang gadis desa yang hidup di kaki Gunung Abadi, dikenal karena keahliannya meramu obat dan tatapan matanya yang terlalu tua untuk usianya. Tapi, dalam mimpinya, ia melihat dirinya menari di bawah cahaya bulan, melayani Kaisar yang mencintainya, hingga racun itu masuk ke dalam cangkir anggurnya.
Semua berawal ketika serpihan giok naga – warisan leluhurnya – mulai memancarkan cahaya biru saat ia mendekatinya. Giok itu berbicara melalui bisikan halus, membawa serpihan memori dari kehidupannya yang lalu. Ia ingat nama musuhnya: Jenderal Zhao. Orang kepercayaannya. Kekasih gelap dayang kepercayaannya.
Zhao… nama itu kini menjadi duri di hatinya. Ia melihat wajah Zhao di setiap pria yang gagah berani, mendengar suaranya di setiap angin yang bertiup. Dendam? Tidak. Wei Lin yang sekarang lebih bijaksana. Kekuatan sejati bukan terletak pada pedang yang diayunkan, melainkan pada keputusan yang diambil.
Ia tahu Jenderal Zhao ada di sini, di dunia yang sama, terlahir kembali sebagai Pangeran Kedua. Seorang pangeran yang berkuasa, tampan, dan… membutuhkan obat untuk penyakit misteriusnya.
Wei Lin, sang peramu obat desa, mendapat kehormatan untuk melayani Pangeran. Ia menatap mata Pangeran Kedua. Benar. Ada aura Zhao yang dikenalnya, meskipun terbungkus kesedihan dan kebingungan. Ia tahu obat apa yang harus ia berikan. Obat yang akan menyembuhkannya… atau melemahkan cengkeramannya pada tahta.
Ia memberikan ramuan itu. Bukan racun. Bukan pula penawar sempurna. Hanya cukup untuk membangkitkan mimpi buruk, cukup untuk membuatnya mempertanyakan kekuasaannya, cukup untuk… membuatnya memilih jalan yang berbeda. Jalan yang membawa kedamaian bagi kerajaannya, jalan yang tidak pernah ia tempuh di kehidupan sebelumnya.
Wei Lin menatap bumi untuk terakhir kali, sebelum berbalik dan mendaki gunung yang menjulang, meninggalkan istana dan pangeran yang kebingungan di belakangnya. Ia akan melanjutkan perjalanannya, membawa serta semua ingatan itu.
Suatu hari, ribuan tahun dari sekarang, kita akan bertemu lagi.
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Bisnis Tanpa Modal