Pedang yang Menangis di Tangan Baru
Di tepi jurang antara Dunia Manusia dan Alam Roh, hiduplah legenda tentang Pedang Bulan Sabit. Bukan pedang biasa, melainkan pusaka yang mampu menembus tabir dimensi, dan konon, menangis ketika dipegang oleh pemilik yang tepat.
Di dunia manusia, hiduplah Lin Wei, seorang pemuda yang merasa hampa, dihantui mimpi aneh tentang kematian. Ia bermimpi jatuh dari tebing, suara angin berbisikkan nama yang asing di telinganya – Shi Lan. Setiap malam, ia terbangun dengan jantung berdebar, merasakan seolah kenangan bukan miliknya mengalir dalam darahnya.
Di dunia roh, Shi Lan, seorang dewi penjaga gerbang dimensi, merasakan getaran aneh. Lentera-lentera air, yang biasanya menerangi jalan para roh, redup dan berkedip. Bayangan-bayangan di dinding gua mulai berbicara, membisikkan nama Lin Wei, nama yang Bulan pun tampaknya ingat.
Lin Wei tanpa sengaja menemukan portal ke dunia roh. Ia tersesat di hutan berkabut, dikelilingi pohon-pohon yang akarnya bercahaya biru. Di tengah kebingungannya, ia menemukan sebuah altar kuno. Di sana, tergeletak Pedang Bulan Sabit. Saat tangannya menyentuh gagang pedang, rasa sakit yang luar biasa menyerbu benaknya. Pedang itu MENANGIS, air mata perak mengalir dari bilahnya.
Shi Lan, merasakan kekuatan pedang yang beresonansi, bergegas menuju altar. Ia menemukan Lin Wei tergeletak tak sadarkan diri, pedang masih tergenggam di tangannya. Sentuhan Shi Lan membangkitkan ingatan Lin Wei. Ia melihat dirinya di kehidupan lain, sebagai seorang ksatria yang mengkhianati Shi Lan, seorang kekasih yang melukai hatinya, seorang pengorbanan yang diperlukan.
"Kematianmu di dunia lama," bisik Shi Lan, suaranya bergetar, "adalah awal dari TAKDIR baru. Kau terlahir kembali untuk menebus dosa-dosamu, untuk melindungi gerbang dimensi."
Namun, kebenaran yang sebenarnya lebih kelam. Bukan Lin Wei yang mengkhianati Shi Lan, melainkan Shi Lan yang memanipulasi takdir. Ia menciptakan siklus reinkarnasi, memenjarakan jiwa Lin Wei dalam lingkaran penebusan dosa yang tak berujung. Cinta Shi Lan bukanlah cinta sejati, melainkan OBSESI yang berbahaya.
Di sisi lain, seorang roh kuno bernama Yue, yang selalu mengawasi Shi Lan dari kejauhan, merasakan ketidakadilan ini. Yue mencintai Shi Lan dengan tulus, namun ia tahu, cinta Shi Lan membutakannya. Yue-lah yang memberikan petunjuk kepada Lin Wei, membimbingnya menuju Pedang Bulan Sabit, berharap Lin Wei dapat membebaskan diri dari jeratan Shi Lan.
Lin Wei, dengan Pedang Bulan Sabit di tangannya, menghadapi Shi Lan. Pertarungan antara cahaya dan kegelapan, cinta dan obsesi, takdir dan kehendak bebas, meledak dengan dahsyat. Pada akhirnya, Lin Wei memilih untuk mematahkan rantai takdir, membebaskan dirinya dan Shi Lan dari lingkaran reinkarnasi.
Siapakah yang mencintai, dan siapakah yang memanipulasi takdir? Jawabannya tersembunyi di balik tabir dimensi, di dalam air mata pedang, di dalam bisikan bulan.
Dan pada akhirnya, hanya gema takdir yang tertinggal, menunggu untuk ditulis ulang.
You Might Also Like: Kelebihan Pembersih Wajah Centella