Ini Baru Drama! Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas



**Di Dunia Ini, Aku Tak Pernah Menjadi Miliknya — Tapi Di Dunia Lain, Aku Tak Pernah Lepas** Langit senja membentang, serupa lukisan muram di atas Istana Giok. Di sini, di dunia yang dingin dan kejam ini, aku hanyalah seorang selir bayangan, seorang bidak dalam permainan kekaisaran. Dia, Pangeran Mahkota Xian, adalah mentari yang tak mungkin kuraih. Hatiku berdenyut pilu setiap kali matanya menatap lurus ke depan, tak pernah sekalipun tertuju padaku. Namun, mimpi membawa keajaiban. Di sana, di dunia yang asing dan dipenuhi lampu-lampu neon, aku adalah Lin Mei, seorang mahasiswi biasa, dan dia adalah Xi An, seorang arsitek muda yang penuh senyum. Di dunia itu, tangannya tak pernah lepas dari genggamanku. Di sana, aku adalah dunianya. Semua berubah saat ia dijodohkan dengan putri bangsawan. Kata-kata manis yang dulu terucap, janji setia yang diikrarkan di bawah pohon sakura yang mekar, menguap begitu saja. Aku hancur. Setiap malam, aku terbangun dengan air mata membasahi pipi, merasakan kehilangan yang begitu nyata. Tapi, aku TERJATUH di mimpi yang terasa lebih nyata. Malam itu, aku dipanggil ke paviliunnya. Xian duduk di antara tumpukan dokumen, wajahnya lelah dan dingin. Matanya akhirnya menatapku, tapi bukan dengan cinta, melainkan dengan... permintaan maaf? "Xiao Yun," bisiknya, suaranya serak. "Aku... aku tidak punya pilihan. Ini demi kelangsungan kekaisaran." Setiap kata yang terucap adalah belati yang menusuk jantungku. Aku ingin berteriak, mencakar wajahnya, bertanya mengapa, mengapa dia begitu tega. Tapi, aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan air mata yang mengalir deras. "Aku tahu ini tidak adil," lanjutnya, suaranya semakin pelan. "Tapi, percayalah, aku akan selalu mengingatmu." *Mengingatku?* Aku tertawa dalam hati. Mengingatku sebagai selir yang terlupakan? Mengingatku sebagai wanita yang hatinya kau remukkan? Aku mengangkat wajahku, menatapnya dengan tatapan sedingin es. "Yang Mulia, jangan khawatir. Aku tidak akan pernah melupakan Yang Mulia juga." Bertahun-tahun berlalu. Aku belajar bermain dalam permainan istana, mengasah kecerdasan dan kelicikanku. Aku naik pangkat, perlahan tapi pasti, hingga aku menjadi orang kepercayaan Permaisuri. Xian, sang Kaisar, selalu menghindari tatapanku, seolah kehadiranku adalah hantu masa lalu. Dan kemudian, kesempatan itu datang. Sebuah konspirasi, intrik yang rumit yang melibatkan para bangsawan dan pasukan asing. Xian, begitu polosnya, tidak melihatnya datang. Aku, dengan tangan dingin, membisikkan kata-kata yang tepat, menyebarkan informasi yang salah, menuntun bidak-bidak ke tempat yang seharusnya. Kekuasaannya terguncang, reputasinya hancur. Semua yang dia perjuangkan kini berada di ambang kehancuran. Di hari terakhirnya, aku berdiri di hadapannya, senyum tipis bermain di bibirku. Matanya dipenuhi ketakutan dan... penyesalan. "Mengapa?" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. Aku hanya tersenyum. *Takdir* melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Aku berbalik, meninggalkan dia dalam reruntuhan hidupnya. Angin dingin berhembus, membawa serta aroma bunga plum yang pahit. Mungkin, di dunia lain, kami akan bahagia selamanya. Tapi, di dunia ini, keadilan punya cara tersendiri untuk menagih hutang. *Apakah aku mencintainya? Atau membencinya? Mungkin, aku mencintai orang yang dia KIRA ada di dalam hatinya, bukan orang yang dia KIRA ada di dalam hatinya.*
You Might Also Like: Tips Sunscreen Lokal Ringan Cocok Untuk

Post a Comment

Previous Post Next Post