Dracin Seru: Cinta Yang Bersembunyi Dalam Lagu Lama



Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul 'Cinta yang Bersembunyi Dalam Lagu Lama' yang saya buat: **Cinta yang Bersembunyi Dalam Lagu Lama** Hujan berbisik di atas nisan. Setiap tetesnya adalah air mata yang tak terucap, membasahi batu dingin tempat Li Wei bersemayam. Bukan bersemayam dalam arti sebenarnya. Jiwanya masih di sini, tertambat pada dunia yang tak lagi menjadi miliknya. Ia adalah bayangan, *hantu* yang menolak pergi. Lima tahun lalu, Li Wei meninggal dalam kecelakaan yang *misterius*. Sebuah mobil melaju kencang di malam yang berkabut, mengakhiri hidupnya yang baru saja akan dimulai. Ia meninggalkan seorang kekasih, Mei Lan, yang hancur hatinya. Ia juga meninggalkan sebuah rahasia, sebuah **kebenaran** yang tak sempat diungkapkan. Kini, ia kembali. Bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk meminta keadilan. Li Wei kembali untuk Mei Lan. Untuk memastikan ia baik-baik saja, untuk mengucapkan kata-kata yang tertahan di tenggorokannya selama bertahun-tahun. Setiap malam, Li Wei mengikuti Mei Lan. Ia melihatnya bekerja di toko bunga kecil mereka, melihatnya tersenyum *palsu* kepada pelanggan. Ia melihat Mei Lan memutar piringan hitam yang sama setiap malam – lagu lama yang sering mereka dengarkan bersama. Lagu itu adalah *simfoni* kenangan, melodi kesedihan yang tak berujung. Bayangan Li Wei memanjang di dinding saat Mei Lan bernyanyi lirih, suaranya bergetar menahan tangis. Ia ingin memeluknya, menghapus air matanya, tapi tangannya hanya bisa menembus tubuh Mei Lan. Ia hanyalah roh, terperangkap dalam **batas** antara hidup dan mati. Ia mencoba berkomunikasi. Ia membisikkan namanya, menyentuh bahunya, tapi Mei Lan tak merasakan apa pun. Ia hanya merasakan *kehadiran*, sebuah rasa aneh bahwa Li Wei masih bersamanya. Suatu malam, Li Wei melihat seorang pria mendatangi Mei Lan. Pria itu adalah Chen, mantan rekan kerja Li Wei. Chen membawa bunga, menawarkan bantuan, dan mencoba menghibur Mei Lan. Li Wei merasakan *amarah* yang familiar menyelinap ke dalam hatinya. Dulu, ia selalu curiga Chen menyukai Mei Lan. Namun, semakin lama ia mengamati, semakin ia menyadari sesuatu. Chen *tulus* mencintai Mei Lan. Ia tidak memaksa, ia hanya ada di sana, memberikan dukungan tanpa pamrih. Li Wei mulai meragukan tujuannya. Apakah ia benar-benar kembali untuk Mei Lan? Atau ada hal lain yang menahannya di dunia ini? Ia kembali ke tempat kecelakaan. Hujan turun semakin deras, membasahi aspal yang dipenuhi kenangan pahit. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, tergeletak tak berdaya di jalan. Lalu, ia melihat *kilasan* memori. Bukan kecelakaan. Tapi… pembunuhan. Seseorang sengaja memotong rem mobilnya. Seseorang ingin ia mati. Amarahnya kembali membara. Ia ingin balas dendam. Ia ingin menghancurkan orang yang telah merenggut hidupnya. Tapi kemudian, ia melihat Mei Lan. Ia melihat kesedihannya, rasa kehilangannya yang tak tersembuhkan. Ia menyadari bahwa balas dendam tidak akan membawa apa-apa. Itu hanya akan memperpanjang penderitaan Mei Lan. Ia harus membiarkan masa lalu berlalu. Ia harus melepaskan. Li Wei kembali ke toko bunga. Mei Lan sedang memutar lagu mereka. Ia duduk di sampingnya, merasakan kehangatan tubuhnya meskipun ia tidak bisa menyentuhnya. Ia membisikkan kata-kata terakhirnya, kata-kata yang seharusnya ia ucapkan lima tahun lalu. "Maafkan aku. Aku mencintaimu. Lepaskan aku." Tiba-tiba, ia merasakan *ringan*. Beban yang selama ini menahannya akhirnya hilang. Ia melihat ke arah Mei Lan. Ia melihat senyum tipis di bibirnya, senyum yang lama tak terlihat. Ia tahu, Mei Lan mendengarnya. Li Wei berbalik, menghadap ke arah cahaya. Ia melangkah maju, meninggalkan dunia yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan. Ia tidak mencari balas dendam. Ia hanya mencari… **kedamaian**. Dan di saat terakhir, saat bayangannya memudar ditelan cahaya, seolah-olah, arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: 89 Review Pelembab Lokal Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post